Sumatera Kuno: Swarnadwipa (Pulau Emas), Swarnabhumi (Tanah Emas), Kanakamedini (Tanah Emas), Malayadwipa (Pulau Melayu), Bhumi Malayu (Tanah Melayu) dan Malayapura (Kota Melayu)

Adalah Sumatera yang merupakan pulau terbesar ke 6 di dunia dan pulau terbesar yang secara keseluruhan berada dibawah kedaulatan Indonesia. Sumatera sangat kaya akan suku bangsa, bahasa dan budaya. Beberapa pemimpin yang ada di Indonesia, Malaysia dan Singapura berasal dari pulau ini. Sumatra bersama Jawa dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara menjadi pulau yang sangat penting dan strategis kerajaan-kerajaan besar lahir di pulau ini seperti Sriwijaya yang kekuasaannya mencakup Indonesia bagian Barat, Malaysia, Singapura dan Thailand bagian Selatan. Hal ini menjadikan Sriwijaya menjadi kerajaan bahari terbesar kedua yang pernah ada di Asia Tenggara. Luas wilayah kekuasaan Sriwijaya hanya di kalahkan oleh Majapahit. 
Sumatera memiliki sejarah yang sangat panjang dan telah berulang kali berganti nama dari masa ke masa sebelum akhirnya dinamakan Sumatra. Nama-nama Sumatera kuno dapat diketahu melalui  sumber dalam negeri dan sumber luar negeri. Sumber luar negeri berasal dari catatan Cina, India dan Arab yang ditulis baik oleh pengembara, penziarah maupun raja dari luar negeri yang melakukan hubungan atau kunjungan dengan raja-raja di Sumatera. Sedangkan berita dalam negeri didapat dari ckitab kuno, manuskrip maupun prasasti yang terdapat di Sumatera dan Jawa.Berikut berita dalam negeri maupun dalam negeri yang menyebut nama kuno Sumatera diantaranya:

Berita dari India
Catatan pertama yang menyinggung Sumatera adalah dalam catatan India kuno, Sumatera disebut dengan nama Suwarnadwipa (pulau emas) atau Suwarnabhumi (tanah emas). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa.
Berita dari Cina dan Arab
Seorang musafir dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7 Masehi, menyebut Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”. Musafir-musafir Arab menyebut Sumatera dengan nama Serendib (Suwarandib), yang berasal dari nama Suwarnadwipa. Dari keterangan Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi Persia, yang pernah mengunjungi Asia Tenggara tahun 1030 Masehi dan menulis catatan perjalanannya dalam Tahqiq ma li l-Hind (Fakta-fakta di Hindia) yang menyatakan bahwa ia mengunjungi suatu negeri yang terletak pada garis khatulistiwa pulau penghasil emas atau Golden Khersonese yakni pulau Sumatera. Abu Raihan mengunjungi Sriwijaya dan  mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib (Swarnadwipa).

Prasasri Nalanda
Prasasti Nalanda di India yang berangka tahun 860 Masehi menyebutkan bahwa :

"Seorang raja dari Swarnabhumi (Sumatera) bernama Balaputradewa anak Samaragriwa cucu dari Śailendravamsatilaka (mustika keluarga Śailendra) dengan julukan Śrīviravairimathana (pembunuh pahlawan musuh), raja Javabhumi (Jawa) yang kawin dengan Tārā, anak Dharmasetu.memberi anugerah bagi Nalanda.
Prasasti Nalanda juga menyebutkan bahwa Balaputradewa telah membebaskan lima buah desa dari pajak. Sebagai imbalannya, kelima desa itu wajib membiayai para mahasiswa dari Kerajaan Sriwijaya yang menuntut ilmu di Kerajaan Nalanda. Hal ini merupakan wujud penghargaan sebab Raja Sriwijaya saat itu, Balaputradewa, mendirikan vihara di Nalanda. Selain itu, Raja Balaputradewa sebagai raja terakhir dinasti Syailendra yang terusir dari Javabhumi (Jawa) meminta kepada Raja Nalanda untuk mengakui hak-haknya atas dinasti Syailendra (Jawa).
Prasasri Padang Roco
Pada abad ke-11 Masehi raja-raja di Jawa menyebut Sumatera dengan nama Swarna Bhumi (Tanah Emas) dan Bhumi Malayu (Tanah Melayu). Sebagaimana yang tercatat dalam prasasti Padang Roco yang merupakan alas dari arca Amoghapasha berbunyi :
  1. Bahagia ! Pada tahun Śaka 1208, bulan Bādrawāda, hari pertama bulan naik, hari Māwulu wāge, hari Kamis, Wuku Madaṇkungan, letak raja bintang di baratdaya ...
  2. .... tatkalai itulah arca paduka Amogapasa lokeśwara dengan empat belas pengikut serta tujuh ratna permata di bawa dari Bhūmi Jāwa ke Swarnnabhūmi, supaya ditegakkan di Dharmmāśraya,
  3. sebagai hadiah Śrī Wiśwarūpa Kumāra. Untuk tujuan tersebut pāduka Śrī Mahārājādhirāja Kṛtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa memerintahkan rakryān mahā-mantri Dyah Adwayabrahma, rakryān śirīkan Dyah Sugatabrahma dan
  4. samagat payānan hań Dīpankaradāsa, rakryān damun Pu Wīra untuk menghantarkan pāduka Amoghapāśa. Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di Bhūmi Mālayu, termasuk brāhmaṇa, ksatrya, waiśa, sūdra dan terutama pusat segenap para āryya, Śrī Mahārāja Śrīmat Tribhuwanarāja Mauliwarmmadewa. 
Dalam beberapa bait Prasasti Amogapasha yang tertulis dibelakang arca Amoghapasha disebutkan kemenangan untuk Malayapura (Kota Melayu):

"Patung yang berdiri ditempat pemujaan Buddha (Jina) ini adalah Tuan yang Mulia Amoghapasa sebagai sinar Udaya (Matahari terbit) yang indah. Dengan tangan (kekuasaan) [...] yang setuju dengan kebenaran, mereka yang telah mencapai ketenaran dengan menaklukkan musuh-musuh kerajaan, yang memiliki penampilan bagaikan seperti anak panah Tuhan, demi kemenangan tertinggi untuk Malayapura, yang berpengalaman dalam segala hal, yang unggul dan diberkahi dengan banyak kebajikan, Dia adalah deva-tuhan, para (patih) raja muda."
Prasasri Baturajo

Dalam Prasti Baturajo yang merupakan peninggalan raja Malayapura, Putra Adyawarman yaitu Adityawarman disebutkan bahwa Adityawarman adalah penguasa Kanakamedini (Tanah emas). Berikut isi lengkap dari prasasti Baturajo yang berbunyi: 

Oṃ māṃla
virāga[ra]
Ādvayavarmma [m]putra Kaṇakamedinī[ndra] (kanakamedini)
śukṛtā[ā] vilabdha kusala(m) prasa(vati)
dhru(vati) maitrī karuṇā[ā] mudīta upekṣā[ā]
yāca[k]kajaṇa kalpataru[r] upa[m]madāna
Ādityavarmma mbhūpa kulisa dharavaṅśa
pratīkṣa avatāra śrī lokeśvara
deva mai(trī)

Artinya:  

Om Mamla (sapaan dalam agama Budha)
Dengan ikhlas
Putra Adwayawarman, penguasa bumi emas
Dia yang telah menerima hasil dari jasanya
Yang teguh dan penuh dengan belas kasih, yang sabar dan menenangkan
Yang murah hati bagaikan kalpataru yang memenuhi semua keinginan
Adityawarman raja dari keluarga Indra
Reinkarnasi dari Sri Lokeswara
Dewa yang penuh cinta kasih.
Prasasti Pagaruyung 
Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekerta dan bahasa Melayu Kuno, berangka tahun dalam bentuk candrasengkala pada baris ke-19 Wasur mmumibhuja stjalam, 1278 Çaka atau tahun 1357 M. Prasasti ini terdiri dari 19 baris tulisan yang menyatakan Adityawarman bergelar Sri Maharaja Diraja. Berikut isi dari Prasasti Batu Basurek:

"Adityawarman adalah raja besar yang arif bijaksana. Ia bergelar Maharaja Diraja, sebagai permata dari keluarga Dharmaraja. Kerajaannya disebut di Suwarnadwipa. Ia mendirikan sebuah bangunan bihara lengkap dengan segala sarana yang dibutuhkan orang. Ia pun dinobatkan sebagai Sang Budha yang luhur, kokoh dan kuat (Sutathagata bajradhaiya)".
Kitab Negarakertagama
Dalam prasasti Jawa yang lain, Sumatera disebut dengan nama Swarnadwipa, Malayadwipa dan Malayapura. Pada abad ke 12 dalam kitab Jawa Kuno Negarakertagama pada pupuh ke 13 menyebut Tanah Melayu yang merujuk ke Sumatera yaitu:
  1. Terperinci pulau Negara bawahan, paling dulu M’layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane.
  2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama Negara-negara melayu yang telah tunduk. Negara-negara di Pulau Tanjungnegara; Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.
Kitab Pararaton
Beberapa bait dari is Kitab Pararaton mengisahkan tentang Darak Petak dan Dara Jingga yang dibawa dari Negeri Melayu (Sumatera):
"Aksara sapuluh dina teka kang andon saking malayu, olih putri roro, kang sawiji ginawe binihaji denira Raden Wijaya, aran Raden Dara Petak: kang atuha arab Dara Jingga alaki dewa apuputra ratu ing Malayu, aran Tuhan janaka, kasir-kasir warmadewa, bhiseka Siraji Mantrolot. Tunggul Pamalayu lan Patumapel : Saka-rsi- sanga-samadhi: 1197
Artinya :
Sekitar sepuluh hari kedatangan rombongan yang bertugas ke Malayu, diperoleh dua orang putri, seorang bernama Dara Petak, ia diperisteri oleh Raden Wijaya, putri tua bernama Dara Jingga bersuamikan dewa (manti) anaknya menjadi raja di Malayu. Diberi nama Tuhan Janaka, masih bersaudara dengan Sri Warmadewa; gelarnya Aji Mantolot. Peristiwa Pamalayu dan Patumapel bersamaan tahun saka; pendeta-sambilan-samadi, 1197 (Machi Suhadi, 1990;230)


Penduduk asli Sumatera seperti suku Minangkabau menyebut Sumatera sebagai pulau Ameh yang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti Tanah Emas. Perkataan ini terekam dalam cerita Cindur. Orang Lampung dalam cerita rakyat Lampung menyebut Sumatera sebagai Tanoh Mas (Tanah Emas).
Cerita kuno maupun prasasti kuno tersebut sampai saat ini masih tercermin dikebudayaan suku-suku yang ada di Sumatera. Pengantin-pengantin suku bangsa yang ada di Pulau Sumatera sangat kaya akan ornamen emas dan perhiasan emas. Hal ini bisa dilihat dari kemewahan pakaian adat Palembang, Jambi, Lampung, Minangkabau, Melayu, Mandailing, Aceh, Rejang, Bangka, Bengkulu dll. Selain itu kebudayaan Melayu sampai saat ini masih sangat lestari berdampingan dengan budaya Minangkabau, Lampung, Aceh, Batak, Rejang, Gayo dll. Sumatera sendiri menjadi rumah bagi 30 dialek Melayu, yang merupakan daerah dengan dialek Melayu terbesar di Dunia. Wonderful Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapal Kuno Borobudur Sebagai Bukti Nenek Moyang Bangsa Indonesia Adalah Pelaut Ulung

Kerajaan Melayu Salah Satu Kerajaan Awal di Sumatera

Arca Budha Tertua di Indonesia